MENANGKAP PESAN DAMAI DARI GUDEG

Apakah anda pernah makan Gudeg? dan bagaimanakah rasanya?
Gudeng merupakan makanan populer khas Jogja. Awalnya gudeg merupakan makanan yang tidak diketahui oleh pihak lingkungan kraton. Gudeg ini tersebar dengan sendirinya seiring sudah mulai terbiasanya masyarakat di luar kraton mengonsumsinya. Dalam sejarahnya gudeg terlahir atas kelangkaan panganan pokok seperti padi – padian. kelangkaan itu disebabkan adanya pengalihan tanaman wajib yang diperintahkan oleh Belanda yang awalnya sawah ditanami padi digantikan dengan tanaman tebu. Selain itu terjadinya kelangkaan padi ini juga disebabkan oleh adanya culture stelsel yang diterapkan oleh Belanda yaitu sistem kerja paksa yang wajib dilakukan oleh seluruh rakyat saat itu, seperti pengerjaan pembuatan jalur kereta api, jalan raya dan membuat irigasi (yang sekarang dikenal dengan Selokan Mataram). dengan adanya sistem tanam paksa dan kerja paksa ini menyebabkan para petani tidak sempat untuk menggarap sawah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam terjadinya krisis pangan ini membuat rakyat harus memutar otak (bereksperimen) untuk menyambung keberlangsungan hidupnya, dengan segala cara ditempuh untuk mencari bahan makanan pengganti nasi. Sehingga ditemukanlah Gudeg yang sampai saat ini masih bertahan dan bahkan menjadi trandmark wisata Jogjakarta. Bahan dasar pembuatan Gudeng sendiri yaitu nangka muda (tewel) yang direbus dengan waktu yang relatif lama sekitar 5 jam. Gudeg ini mempunyai rasa gurih – gurih manis yang sangat memikat. serta dalam penyajiannya gudeg harus dibarengi dengan krecek (kulit sapi/kerbau), telur rebus dsb. Jika tidak dibarengi dengan bahan – bahan tersebut diatas maka gudeg tidak akan terasa nikmat dan terasa enek yang akan membuat orang enggan untuk memakannya.
Filosofi keberagaman dalam komposisi penyajian gudeg ini harusnya menjadi pembelajaran bagi kita semua khususnya bagi terorisme. Karena semangat yang dijunjung oleh para pelaku teror adalah menciptakan masyarakat yang seragam (homegen) dan menolak keberagaman (heterogen) dari segi agama dan idiologi. Bahkan mereka juga menginginkan satu sistem pemerintahan dengan negara islam yaitu konsep khilafah yang pernah terjadi pada masa islam periode pertengahan.
Bagaimana mungkin kehidupan yang penuh dengan keberagaman ini akan dijadikan seragam. hal ini hanya akan menyebabkan keresahan dalam kehidupan masyarakat. Telah kita ketahui bersama bahwa budaya pola pikir (pandangan hidup) yang ada di setiap pulau Indonesia ini sangat berbeda dengan pulau yang lain. Perbedaan ini beginilah adanya, kita tidak bisa menolaknya karena ini adalah pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Perbedaan merupakan rahmat untuk kita saling mengenal, menghormati dan tolong menolong guna mewujudkan hidup yang rukun serta harmonis. Patih Gajah Mada dalam misinya menyatukan wilayah Nusantara bukanlah untuk menyeragamkan perbedaan menjadi jawanisme melainkan untuk mewujudkan negara Nusantara yang saling senasib – sepenanggungan. Maka dari sebab itu, enyahlah segala pandangan seragam yang nantinya akan menyebabkan aksi teror bagi masyarakat.