NGTRIP SEJARAH to MUSEUM SONOBUDOYO

ft museum 3Kali ini (26/3/16) komunitas Rimbun mempunyai kesempatan untuk ngtrip ke Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Jalan – jalan sambil memperluas ilmu pengetahuan tentang sejarah masa lampau ini menjadi tema utama dalam penelusuran kita dalam menapak tilasi peradaban nenek moyang bangsa Indonesia. Menggali pengetahuan tentang sejarah ini menjadi pijakan penting sebagai dasar ilmu pengetahuan yang lainnya. Belajar sejarah meski obyeknya tentang masa lampau namun hal itu dapat memberi pelajaran pada kita bagaimana cara untuk melangkah/berpijak di masa depan. Pentingnya mempelajari sejarah nenek moyang ini sangat dianjurkan oleh Ir. Soekarno, ungkapannya yang sangat terkenal yaitu JASMERAH (jangan sekali – kali melupakan sejarah).
Museum Sonobudoyo menjadi tempat pertama yang dipilih oleh Komunitas Rimbun. Selain jaraknya yang relatif dekat dan harga tiket relatif terjangkau Rp. 3000.- macam koleksinyalah yang beragam itu membuat kunjungan pertamakali ini ditambatkan di museum Sonobudoyo. Meski koleksi yang terdapat di Museum Sonobudoyo tidak terlalu banyak dan tidak mewakili peradaban seluruh Indonesia tapi setidaknya dapat memberi informasi kepada kita bahwasanya peradaban yang telah dicapai oleh nenek moyang bangsa Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi generasi selanjutnya. Menurut Peter Carey yang mengatakan bahwa orang Indonesia saat ini telah tercerabut dari akar sejarahnya dan lebih berpola pada budaya Pop dari luar, menjadi pemicu komunitas Rimbun dan mahasiswa SKI UIN Yogyakarta untuk merefleksikan diri meneguhkan kembali identitas bangsa agar tidak mengalami pikir hysteresis.ft di museum 2
Museum Sonobudoyo pada awalnya merupakan sebuah lembaga yang menaungi balai pelestarian hasil budaya dari kerajaan Mataram, Cirebon, Madura dan Bali yang berada di Surakarta, melalui sebuah perjanjian pada masa pemerintahan HB VIII menyebabkan lembaga ini di pindah ke Yogyakarta dan berganti nama menjadi Museum Sonobudoyo. dengan memanfaatkan gedung bekas pos polisi Belanda sebagai tempat tinggalnya. Benda – benda yang terdapat dalam Museum Sonobudoyo ini sangat variatif seperti senjata tajam untuk peperangan melawan musuh semacam celurit yang panjangnya hampir satu meter dan celurit yang bagian lengkungannya terdapat mahkotanya. Selain itu juga terdapat meriam jawa yang asli buatan rakyat pribumi yang digunakan untuk perang. Selain benda peralatan untuk berperang, di situ juga terdapat bermacam hasil budaya yang turut menghiasi koleksi Museum seperti halnya topeng – topeng khas Cirebon, Jogja (Jawa Tengah), Madura dan Bali. Ada juga macam – macam wayang sesuai dengan zamannya semacam wayang kulit khas islam, kristen, Bali dan jawa barat. Museum Sonobudoyo selain sebagai tempat penyimpanan benda sejarah juga sebagai penyimpanan naskah – naskah kuno seperti halnya al – qur’an yang ditulis tangan oleh sultan HB VIII dengan bahasa jawa menggunakan aksara arab (arab pegon) turut menjadi koleksi unggulan Museum serta banyak lagi benda – benda bersejarah lain yang patut kita pelajari dan refleksikan kembali tentang pancapaian nenek moyang kita pada zamannya.
Keberadaan Museum Sonobudoyo membuat generasi muda selanjutnya mempunyai referensi identitas kedirian dalam berpijak menyikapi kehidupan yang mengglobal ini, yangmana batas antar budaya semakin sumir untuk menbedakannya. Identitas kedirian ini sangat perlu di kehidupan kita selanjutnya agar tidak mengalami hysteresis ataupun watak retak, meminjam istilah Mudji Soetrisno untuk mengidentitaskan manusia yang tercerabut dari akar budayanya sendiri. Yaitu manusia yang sudah lupa dengan hasil budaya sebelumnya yang menjadi pijakan dalam mengarungi hubungan sosialnya.