Memahami Proxy War (Perang Dingin Baru)

tuguBeberapa minggu yang lalu Indonesia digemparkan oleh berita tentang aksi pengepungan warga Jogja terhadap beberapa mahasiswa asal Papua yang berencana menggelar aksi turun ke jalan untuk menyuarakan referendum pemisahan Papua dari NKRI. Ide pelaksanaan aksi ini menuai respon yang sangat represif dari berbagai ormas setia NKRI untuk mencegah adanya aksi tersebut sehingga berbagai ormas itu menggelar aksi tandingan dengan mendatangi asrama Papua di jalan Kusumanegara.
Dari berbagai pendapat yang dilontarkan oleh para ormas penjaga NKRI mereka menyayangkan wacana yang dibawa oleh teman – teman Papua karena hal itu dapat menyebabkan perpecahan. Selain itu mereka juga khawatir bahwa ide atau wacana tersebut ditunggangi oleh salah satu negara tertentu yaitu bentuk dari proxy war seperti yang pernah terjadi pada Timor Leste.
Proxy war diartikan sebagai peristiwa saling adu kekuatan di antara dua pihak yang bermusuhan, dengan menggunakan pihak ketiga. Pihak ketiga ini sering disebut dengan boneka. Maka dari itu ia tidak dikenali oleh siapapun kecuali oleh pihak yang mengendalikannya.
Oleh sebab itu, lembaga – lembaga masyarakat, mahasiswa dan yang sejenisnya dapat dengan mudah dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu untuk dijadikan alat perang proksi. Jika kita masih ingat pada kasus yang terjadi pada Timor Timur dahulu yang mana sebagian rakyat di sana menuntut adanya referendum untuk keluar dari NKRI. Timur Leste yang hanya dikenal sebagai daerah yang tidak potensial secara sumber daya alam membuat berbagai kalangan khususnya pemerintah tidak mencurigai bahwa tuntutan yang dilakukan oleh sebagian penduduk Timur Laste itu bagian dari proxy war.
Namun setelah Timur Laste resmi berpisah dari NKRI, baru diketahui bahwa Timur Laste menyimpan banyak sumber daya minyak yang sangat melimpah. Sehingga dalam konteks SDA ini pihak Australia lah yang diuntungkan karena negara itu yang turut andil dalam pengelolaan sumber minyak tersebut. Kenapa bisa Australia? Ya, karena Australialah yang paling getol mendukung upaya penduduk Timor saat itu yaitu dengan menyuarakan HAM. Sehingga Australia mampu membujuk PBB untuk memasok pasukan keamanan ke Timor Leste.

Adapun dalam konteks yang terjadi dengan Papua ini kita harus jeli dalam melihat kasus. Kita jangan sampai lagi terkecoh dengan proxy war yang nantinya membuat Papua terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia karena bumi Papua merupakan bumi yang sangat kaya SDA nya sehingga daerah ini dianggap seksi oleh para kapitalis. Selain karena SDA tersebut, Seluruh daerah Indonesia ini tidak boleh pisah dari NKRI karena kita sudah satu nasib dan satu seperjuanagan.